Monday, February 5, 2018

Sebuah Surat untuk Dilan


Dilan, aku mau menyampaikan beberapa hal menyangkut pernyataanmu tentang "rindu itu berat." Aku setuju, namun tidak sepenuhnya. Telah aku ringkas di surat ini beberapa hal yang nyatanya lebih berat dari rindu. Mohon dibaca, ya..

Untuk Dilan
di tempat

Dilan, yang berat itu bukan rindu, tapi cinta satu sisi.
Kamu tahu bagaimana rasanya mengagumi orang dari kejauhan? Menikmati senyum yang merekah di bibirnya, mendengar gelak tawanya yang nyaring, memandang kedua matanya yang menatap serius saat ada yang mengajaknya berbicara, bahkan gaya jalannya yang sedikit kaku namun membuatku berharap ia berjalan ke arahku? Semua gerak-gerikmu membuatku dalam hati berkata.............



Dilan, yang berat itu bukan rindu, tapi berharap pada sesuatu yang tidak pasti.
“Kalau tidak pasti, ya lupakan saja lah!” Teorinya memang begitu, tapi hati terkadang sulit patuh terhadap pemikiran rasional. Bagaimana mungkin melupakan seseorang yang membuat hati berdegup kencang, sedikit lebih kencang dari “roller coaster tercepat ketiga di dunia” versi on the spot? Bagaimana caranya berhenti berharap pada seseorang yang sudah kuhafal harum tubuhnya, bahkan ketika ada aroma sejenis yang lewat, hatiku spontan tersenyum? Dia baik, dia pintar, dia belum memiliki kekasih, tapi dia pun belum memberikan sinyal dan kepastian. Memilih untuk diam dan berharap memang berat, namun memilih untuk melupakannya tentu jauh lebih berat, Dilan. Kalau begini kan jadinya..........



Dilan, yang berat itu bukan rindu, tapi memulai percakapan dengannya.
“Lagi apa?”
“Kamu di mana?”
Pertanyaan klise seperti itu terdengar membosankan dan mungkin sudah tidak hits di zaman sekarang ini.
Ingin rasanya bertanya
“Bagaimana hari-harimu di kantor? Apakah semua pekerjaanmu beres?”
“Apakah hari ini anak buahmu menyusahkanmu? Atau atasanmu membuat kepalamu pusing tujuh keliling?”
“Jangan pulang terlalu malam, aku tidak ingin melihat kamu kelelahan.”
“Ingat untuk makan malam, ya. Usahakan untuk makan sayur dan buah yang banyak. Oh, dan jangan lupa meminum vitamin C agar daya tahan tubuhmu baik.”
Atau sekadar
“Selamat tidur. I love you.”

Bagaimana caranya aku harus memulai percakapan ini? Apakah untuk mendapat perhatianmu aku harus menjual.....



Dilan, yang berat itu bukan rindu, tapi membayar cicilan KPR dan cicilan masa depan lainnya.
Harga tanah dan bangunan semakin mahal, Dilan. Untuk sebuah rumah di Jakarta harus merogoh kocek minimal milyar rupiah. Bahkan di pinggir ibukota, harga rumah ratusan juta sudah sulit ditemukan, sama halnya dengan apartemen. Cicilannya pun tidak murah, gajian seperti cuma numpang lewat dan tinggal menjadi kenangan. Itu baru tempat tinggal, belum lagi tabungan untuk kehidupan sehari-hari, tabungan untuk sekolah anak di masa depan, tabungan untuk jalan-jalan, nyalon, makeup, skincare, dan ah masih banyak hal lain yang berhubungan dengan uang. Sungguh berat, Dilan.



Dan terakhir, Dilan.. Asal kamu tahu, ada satu hal yang jauh lebih berat dari rindu, yaitu sinamot.
Kamu mungkin tidak begitu paham mengenai sinamot, karena sinamot adalah salah satu (dari ribuan) budaya batak. Sinamot, ya, mahar kawin yang harus dibayar oleh kaum lelaki yang hendak menikahi perempuan berdarah Batak. Harganya kau tau, Dilan? Mahal kali pun amanggggg, puluhan sampai ratusan juta, Dilan! AGOI AMANGGG!!! Namun, jangan kuatir Dilanku, aku dan keluargaku nampaknya tidak terlalu strict pada hal itu karena kami adalah Batak KW, zadi seberapanya lah yang kau ada, Dilan, aku terima. Paling tidak honeymoon ke Santorini dan travelling keliling Europe tiap akhir tahun pun sudah cukup bagiku. Tenang, yang terutama, aku hanya berdoa.....




Segini dulu suratku ya, Dilan. Semoga surat ini sampai ke tanganmu, dan mungkin kau benar bahwa rindu itu memang berat, jadi biarlah aku saja yang rindu, kamu cari duit yang banyak aja untuk nikahan kita nanti. BIAR MARPESTA KITA, DILAN!!!!!!!!!







Love,
Milea Hutauruk

8 comments:

  1. Kampvrettt gue selalu fokus dan nunggu next gambar apa wkwkwkkwkwkw. Top!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuy kita bikin geng qasidah wkwkwk

      Delete
  2. Bener banget tuh, tapi yg berat itu memepertahankan percakapan dengannya, karena memulai percakapan sangat mudah hihihi
    Btw salam kenal ya, ditunggu kunjungannya ke estolagi.blogspot.com kalo bisa komen juga hihihi

    ReplyDelete
  3. wah banyak yang berat2 selain rindu ya, jd gak semua yang berat itu rindu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mba. Yang berat bukan cuma rindu, tapi badanku juga... :D

      Delete